Matahari sudah mulai condong ke barat, pasar sudah mulai sepi. Seperti biasa pak tua, kuli panggul pasar itu, pasti akan mampir ke warung kecilku untuk membeli segelas teh manis dan sebatang rokok sambil bercanda denganku. Tapi tidak kali ini, dia membawa setumpuk koran dan memilih duduk di pinggr emperan depan warungku.
![]() |
| Photo koleksi pribadi Rinrin Indrianie |
"Tehnya Nduk!" Dibukanya lembar demi koran dan ditatapnya dengan seksama.
Sambil mengaduk teh pesanannya kupandang "Baca apa pak, serius sekali?"
"Bapak tidak bisa membaca Nduk, bapak buta huruf." Senyumnya mengembang di wajahnya.
"Itu koran untuk apa, kalau bapak tidak bisa membaca?" tanyaku penasaran.
"Bapak ingin melihat-lihat wajah lelaki tampan. Lelaki tampan seperti gambar di koran ini pasti baunya harum ya nduk?" Tangannya menunjuk ke arah gambar seorang aktor film terkenal.
"Ya jelas lah pak, mereka kaya, bisa beli minyak wangi yang baunya bisa tercium sampai 10 meter. Kenapa pak, kok tiba-tiba menanyakan laki-laki tampan dan bau harum. Jangan-jangan bapak ingin melamar jadi aktor ya pak, ingin ikut main film." Aku tertawa cekikikan saat membayangkan pak tua menjadi aktor.
Pak tua itu ikut tertawa tergelak-gelak. "Syukurlah kalau bau wangi nduk, kalau bau apek kaya bapak tidak lucu rasanya. Wajah tampan bau kecut tetap saja tidak laku seperti bapak."
Aku tersenyum dikulum. Pak tua bujang lapuk ini selalu saja menghiburku dengan kata-kata lucunya. "Tapi maksudnya apa pak, kok bapak bilang aktor ganteng bau apek?"
"Kata pak ustad, kalau kita mati masuk sorga kita kan jadi ganteng dan cantik. Makanya bapak ingin melihat-lihat gambar wajah ganteng, sambil membayangkan seandainya kelak nanti bapak punya wajah ganteng. Ayo kamu yang rajin ibadah ya nduk. Biar seperti artis cantik ini." Tawanya kembali terkekeh-kekeh.
*******
Pagi itu sebelum pasar buka terdengar kehebohan di masjid seberang pasar. Kutunda membuka warungku dan berjalan menuju masjid.
"Innalillahi wa inna illaihi rojiun." Rasanya lemas tulang-tulangku mendengar berita pak tua langganan terbaikku berpulang.
Kudengar bisik-bisik dari jamaah masjid, pagi subuh itu pak tua menyerahkan kambing kurban sebelum solat subuh dimulai. Beliau tak pernah bangkit setelah salam.
"Selamat jalan pak, semoga bapak jadi bidadara tampan seperti aktor di koran di surga nanti," desisku lirih.
******


idenya bagus :D
ReplyDeletetinggal perbaiki perbedaan penggunaan sapaan dan bukan sapaan.
;) Keep writing!
idem sama mak carra :)
ReplyDelete