"Baik Mas Her,
sampai jumpa di Jakarta,"
Lelaki itu, aku mengenalnya dua tahun lalu dalam
penerbangan Jakarta-Jerman. Seorang duda cerai, yang
berhasil membuatku, jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia melamarku sebulan lalu.
********
"Ibu jangan lupa
kita ada perbedaan waktu 5 jam. Tetamu yang kita undang sebagai saksi sebelum
jam 11 siang supaya di Jakarta ijab bisa dilaksanakan jam 4 sore." Suara
anak lelakiku membuyarkan lamunanku.
Persiapan pernikahan
anak lelakiku ini benar-benar membuatku lelah secara mental. Sebagai ibu
tunggal dengan anak tunggal itu membuat segala macam hal harus dilakukan
sendiri. Hal terburuk pasporku hilang hanya seminggu sebelum kepulangan kami ke
Indonesia. Yudi dan Dina bersikukuh tetap melangsungkan pernikahan sesuai
dengan jadwal walaupun harus menggunakan bantuan teknologi.
"Oke, Ibu sudah
meminta bantuan beberapa teman Ibu, kau bisa mengundang teman-temanmu supaya menyaksikan pernikahanmu. Koneksi
internet semua tanggung jawabmu bukan?"
"Siap bu, Yudi
siapkan 3 laptop dan 2 proyektor buat jaga-jaga. Yudi juga minta bantuan teman
supaya menjaga koneksi kita dengan keluarga Dina lancar."
"Maafkan ibu,
gara-gara paspor Ibu ...."
Yudi memelukku erat dari
belakang. "Sudah jadi takdir Allah, Mas Andre dan keluarga membatalkan
pulang dan menjadi wali yang akan menikahkan kami disini. Ibu tidak perlu khawatir, pernikahan Yudi akan tetap sah."
"Tapi Mami Dina
pasti kerepotan membatalkan segala acara disana, gedung, catering, event
organizer dan ...," sahutku penuh rasa bersalah.
"Ibu lupa ya, Dina
punya Papi yang hebat, Mami tidak akan kerepotan sendirian. Kelak Yudi juga
ingin mencintai dan mendukung Dina seperti Papi."
**********
Hari yang
ditunggu-tunggu tiba, rumah telah dihias cantik , segala perlengkapan telah
siap sedia, hidanganpun sudah mulai ditata di atas meja.
"Bang, seperti janjiku
dulu, aku akan merawat anak kita sampai dia menikah. Hari ini hari
besarnya, doakan Yudi bahagia." Kutatap foto terakhir Yudi dan almarhum ayahnya 15 tahun lalu.
“Nah lo Ibu melamun, 30
menit lagi acara dimulai.” Teriakan Yudi mengagetkanku, diangsurkannya laptop
kepadaku. “Dina ingin bicara dengan ibu sebentar.”
“Ibu, Dina cantik kan?
Sayang sekali Dina tidak bias memberi pelukan kepada Ibu,” seru Dina dari
seberang terdengar riang, “Dina mau memperkenalkan Papa kandung Dina kepada Ibu, tak disangka
Papa datang pagi-pagi sekali hari ini. Tunggu sebentar ya Bu”
Sebelum sempat aku
menjawab, Dina sudah berdiri dan menggapai sosok yang ada di belakangnya. Aku melihat sesok lelaki
berjas abu-abu tua berjalan di samping Dina, wajahnya tidak terlihat jelas.
Sosok itu kemudian duduk agak menyamping dari kamera laptop.
Laptop itu digeser lembut
oleh calon menantuku dan kulihat jelas wajahnya. “Ini Papa kandung Dina, namanya Papa Herjujanto.”
“Rinta ...” Terdengar
suara dari seberang penuh keterkejutan.
“Mas Her ...,” jawabku tercekat, mataku berkaca-kaca.
*******
Ijab kabul berjalan lancar,
Yudi telah sah menjadi suami Dina. Dari layar tampak Dina tersenyum bahagia.
Aku menyembunyikan kesedihanku dengan dalih air mata haru. Dina, mempelai
perempuan itu, menantuku, ternyata adalah putrimu yang kau tinggalkan 16 tahun yang lalu, setelah engkau berpisah dengan istrimu.
RT @nafriyrrah: CINTA PANDANGAN PERTAMA. Mempelai wanita itu…
Yah.. gak jadi nikah deh...
ReplyDelete