Tuesday, September 24, 2013

Menantuku

"Baik Mas Her, sampai jumpa di Jakarta," 

Lelaki itu, aku mengenalnya dua tahun lalu dalam penerbangan Jakarta-Jerman. Seorang duda cerai, yang berhasil membuatku, jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia melamarku sebulan lalu.

********

"Ibu jangan lupa kita ada perbedaan waktu 5 jam. Tetamu yang kita undang sebagai saksi sebelum jam 11 siang supaya di Jakarta ijab bisa dilaksanakan jam 4 sore." Suara anak lelakiku membuyarkan lamunanku.

Persiapan pernikahan anak lelakiku ini benar-benar membuatku lelah secara mental. Sebagai ibu tunggal dengan anak tunggal itu membuat segala macam hal harus dilakukan sendiri. Hal terburuk pasporku hilang hanya seminggu sebelum kepulangan kami ke Indonesia. Yudi dan Dina bersikukuh tetap melangsungkan pernikahan sesuai dengan jadwal walaupun harus menggunakan bantuan teknologi.


"Oke, Ibu sudah meminta bantuan beberapa teman Ibu, kau bisa mengundang teman-temanmu supaya menyaksikan pernikahanmu. Koneksi internet semua tanggung jawabmu bukan?"  

"Siap bu, Yudi siapkan 3 laptop dan 2 proyektor buat jaga-jaga. Yudi juga minta bantuan teman supaya menjaga koneksi kita dengan keluarga Dina lancar."  

"Maafkan ibu, gara-gara paspor Ibu ...."

Yudi memelukku erat dari belakang. "Sudah jadi takdir Allah, Mas Andre dan keluarga membatalkan pulang dan menjadi wali yang akan menikahkan kami disini. Ibu tidak perlu khawatir, pernikahan Yudi akan tetap sah."

"Tapi Mami Dina pasti kerepotan membatalkan segala acara disana, gedung, catering, event organizer dan ...," sahutku penuh rasa bersalah.

"Ibu lupa ya, Dina punya Papi yang hebat, Mami tidak akan kerepotan sendirian. Kelak Yudi juga ingin mencintai dan mendukung Dina seperti Papi."  

**********

Hari yang ditunggu-tunggu tiba, rumah telah dihias cantik , segala perlengkapan telah siap sedia, hidanganpun sudah mulai ditata di atas meja.

"Bang, seperti janjiku dulu, aku akan merawat anak kita sampai dia menikah. Hari ini hari besarnya, doakan Yudi bahagia." Kutatap foto terakhir Yudi dan almarhum ayahnya 15 tahun lalu.

“Nah lo Ibu melamun, 30 menit lagi acara dimulai.” Teriakan Yudi mengagetkanku, diangsurkannya laptop kepadaku. “Dina ingin bicara dengan ibu sebentar.”

“Ibu, Dina cantik kan? Sayang sekali Dina tidak bias memberi pelukan kepada Ibu,” seru Dina dari seberang terdengar riang, “Dina mau memperkenalkan  Papa kandung Dina kepada Ibu, tak disangka Papa datang pagi-pagi sekali hari ini. Tunggu sebentar ya Bu”

Sebelum sempat aku menjawab, Dina sudah berdiri dan menggapai sosok yang ada di belakangnya.  Aku melihat sesok lelaki berjas abu-abu tua berjalan di samping Dina, wajahnya tidak terlihat jelas. Sosok itu kemudian duduk agak menyamping dari kamera laptop.

 Laptop itu digeser lembut oleh calon menantuku dan kulihat jelas wajahnya. “Ini Papa kandung Dina, namanya Papa Herjujanto.”

“Rinta ...” Terdengar suara dari seberang penuh keterkejutan.

“Mas Her ...,” jawabku tercekat, mataku berkaca-kaca.

*******
Ijab kabul berjalan lancar, Yudi telah sah menjadi suami Dina. Dari layar tampak Dina tersenyum bahagia. Aku menyembunyikan kesedihanku dengan dalih air mata haru. Dina, mempelai perempuan itu, menantuku, ternyata adalah putrimu yang kau tinggalkan 16 tahun yang lalu, setelah engkau berpisah dengan istrimu.


 RT @nafriyrrah: CINTA PANDANGAN PERTAMA. Mempelai wanita itu…


1 comment: